Minggu, 14 April 2013

Macam-Macam Aliran Etika Barat

Macam-macam Aliran Etika Barat

        Dalam sistem etika Barat ini, ada tiga teori etika yang akan dibahas antara lain:
1.       Teori Teleologi
        Teleologi berasal dari akar kata Yunani telos, yang berarti akhir, tujuan, maksud, dan logos, perkataan. Teleologi adalah ajaran yang menerangkan segala sesuatu dan segala kejadian menuju pada tujuan tertentu. Istilah teleologi dikemukakan oleh Christian Wolff, seorang filsuf Jerman abad ke-18. Teleologi merupakan sebuah studi tentang gejala-gejala yang memperlihatkan keteraturan, rancangan, tujuan, akhir, maksud, kecenderungan, sasaran, arah, dan bagaimana hal-hal ini dicapai dalam suatu proses perkembangan. Dalam arti umum, teleologi merupakan sebuah studi filosofis mengenai bukti perencanaan, fungsi, atau tujuan di alam maupun dalam sejarah. Dalam bidang lain, teleologi merupakan ajaran filosofis-religius tentang eksistensi tujuan dan “kebijaksanaan” objektif di luar manusia.
      Dalam dunia etika, teleologi bisa diartikan sebagai pertimbangan moral akan baik buruknya  suatu tindakan dilakukan, Teleologi mengerti benar mana yang benar, dan mana yang salah, tetapi itu bukan ukuran yang terakhir. Yang lebih penting adalah tujuan dan akibat. Betapapun salahnya sebuah tindakan menurut hukum, tetapi jika itu bertujuan dan berakibat baik, maka tindakan itu dinilai baik. Ajaran teleologis dapat menimbulkan bahaya menghalalkan segala cara. Dengan demikian tujuan yang baik harus diikuti dengan tindakan yang benar menurut hukum. Perbincangan “baik” dan “jahat” harus diimbangi dengan “benar” dan “salah”. Lebih mendalam lagi, ajaran teleologis ini dapat menciptakan hedonisme, ketika “yang baik” itu dipersempit menjadi “yang baik bagi diri sendiri. Berdasarkan pembahasan etika teleologi ini, kemudian muncul aliran-aliran teleologi, yaitu egoisme dan utilitarianisme.[1]
    a.     Egoisme
     Inti pandangan egoisme adalah bahwa tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar pribadi dan memajukan dirinya sendiri. Perilaku yang dapat diterima tergantung pada konsekuensinya. Inti pandangan egoisme adalah bahwa tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar pribadi dan memajukan dirinya sendiri. Satu-satunya tujuan tindakan moral setiap orang adalah mengejar kepentingan pribadi dan memajukan dirinya. Egoisme ini baru menjadi persoalan serius ketika ia cenderung menjadi hedonistis, yaitu ketika kebahagiaan dan kepentingan pribadi diterjemahkan semata-mata sebagai kenikmatan fisik yg bersifat vulgar. Memaksimalkan kepentingan kita terkait erat dengan akibat yang kita terima.[2]
      Seseorang tidak mempunyai kewajiban moral selain untuk menjalankan apa yang paling baik bagi kita sendiri. Jadi, menurut egoisme etis, seseorang tidak mempunyai kewajiban alami terhadap orang lain. Meski mementingkan diri sendiri, bukan berarti egoisme etis menafikan tindakan menolong. Mereka yang egoisme etis tetap saja menolong orang lain, asal kepentingan diri itu bertautan dengan kepentingan orang lain. Atau menolong yang lain merupakan tindakan efektif untuk menciptrakan keuntungan bagi diri sendiri. Menolong di sini adalah tindakan berpengharapan, bukan tindakan yang ikhlas tanpa berharap pamrih tertentu.[3]
    Contoh: R.Budi dan Michael Hartono, misalnya, memiliki kekayaan US$ 11 miliar dan menempati perigkat pertama. Kekayaan ini diperoleh dari antara lain kelapa sawit dan industri rokok (Djarum). Angka kekayaan ini cukup tinggi jika dibandingkan dengan total kekayaan 40 orangterkaya sebanyak US$ 71 miliar. sesungguhnya sudah bisa melihat karakter egoisme etis pada mereka. Yang mana? Jikalau mereka altruisme, bisa dipastikan tak akan berbisnis rokok. Orang-orang altruisme akan berpikir rokok merupakan komoditas yang “mematikan” banyak orang, maka harus dicegah utnuk memperbanyak alat pembunuh itu. Sebaliknya, egoisme etis mengabaikan rokok yang disepadankan dengan alat pembunuh. Egoisme etis harus meneguhkan hati, “Ini cuma bisnis, jadi harus diabaikan dampak-dampak yang ditimbulkan. Salah sendiri orang lain mau membeli rokok sang pembunuh ini”.
   b.     Utilitarianism
      Semakin tinggi kegunaannya maka semakin tinggi nilainya. Berasal dari bahasa latin utilis yang berarti “bermanfaat”. Menurut teori ini suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut bukan saja  satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan. Sebaliknya, yang jahat atau buruk adalah yang tak bermanfaat, tak berfaedah, dan merugikan. Karena itu, baik buruknya perilaku dan perbuatan ditetapkan dari segi berguna, berfaedah, dan menguntungkan atau tidak. Dari prinsip ini, tersusunlah teori tujuan perbuatan.[4]
   Contoh: Industri rokok “menolong” kemajuan olahraga dengan menggelontorkan dana sebanyak-banyaknya, namun berpengharapan para penggila olahraga ini (pemain atau penonton) menjadi perokok aktif maupun pasif. Jelas, menolong yang dilakukan adalah berdasarkan keterpautan kepentingan diri sendiri.


2.       Teori Deontologi
    Teori Deontologi yaitu : berasal dari bahasa Yunani, “Deon“ berarti tugas dan “logos” berarti pengetahhuan. Sehingga Etika Deontologi menekankan kewajiban manusia untuk bertindak secara baik. Suatu tindakan itu baik bukan dinilai dan dibenarkan berdasarkan akibatnya atau tujuan baik dari tindakanyang dilakukan, melainkan berdasarkan tindakan itu sendiri sebagai baik pada diri sendiri. Dengan kata lainnya, bahwa tindakan itu bernilai moral karena tindakan itu dilaksanakan terlepas dari tujuan atau akibat dari tindkan itu. Contoh: jika seseorang diberi tugas dan melaksanakanny sesuai dengan tugas maka itu dianggap benar, sedang dikatakan salah jika tidak melaksanakan tugas.[5]
       Teori ini menafikan konsep Teori Teleologikal karena golongan deontologist ini ialah golongan yang tidak percaya dengan akibat. Teori ini menegaskan bahwa betul atau salahnya sesuatu tindakan itu tidak berdasarkan atau ditentukan oleh akibat-akibat tindakan tersebut. Mengikut teori ini, nilai moral suatu tindakan tidak boleh dinilai ke atas kesudahannya iaitu hasil atau kebaikan yang akan didapati kerana kesudahan sesuatu tindakan adalah tidak jelas dan tidak dapat ditentukan hasilnya semasa tindakan tersebut dibuat tetapi bergantung pada niat seseorang itu yang membuat keputusan atau melakukan tindakan.
     Immanuel Kant, seorang ahli falsafah German (1724-1804) yang pernah mengajar di University of Konigsberg di bahagian barat Rusia merupakan seorang ahli falsafah yang sering dikaitkan dengan Teori Deontologikal ini. Hal ini kerana, beliau percaya bahawa apa yang memberi nilai moral kepada sesuatu tindakan bukan akibatnya kerana akibat-akibat tindakan kita tidak sentiasa berada di bawah kawalan kita tetapi motif atau niat tindakan kita adalah di bawah kawalan kita. Oleh itu, kita harus bertanggungjawab secara moral atas motif kita untuk membuat kebaikan atau keburukan.
      Teori Deontologikal ini terbagi kepada dua aspek yaitu deontologikal tindakan (eksistensialisme) dan deontologikal peraturan (prinsip kewajiban). Eksistensialisme bermaksud kebebasan moral bertindak tanpa amanah, paksaan dan larangan iaitu merangkumi aspek kebebasan; kebebasan jasmani, kebebasan kehendak dan kebebasan moral. Eksistensialisme berasal daripada perkataan existent yang bermaksud wujud atau ada. Deontologikal tindakan ini dipelopori oleh Jean Paul Satre yang menekankan kebebasan iaitu manusia bebas memilih tindakannya.  Individu bebas buat pilihan atau keputusan moral  dan tidak membenarkan pilihan atau keputusannya dipengaruhi orang lain.
Eksistensialisme juga dikaitkan dengan pilihan moral (First Hand Choice) iaitu membuat pilihan terus dari akal rasional berdasarkan kepada sesuatu keputusan moral yang sentiasa berubah, tidak universal, bersifat subjektif, tidak mutlak, tidak kekal dan individualistik. Contohnya, seseorang individu tidak dilahirkan terus untuk menjadi guru, tetapi merupakan pilihan individu tersebut untuk menjadi guru atau pekerjaan lain. Begitu juga dengan pelaksaan tindakan lain oleh seseorang yang dirasakan yakin dan betul untuk dilaksanakan. Aspek ini mementingkan kebebasan individu untuk memilih tanpa dipengaruhi oleh faktor lain tetapi masih dalam konteks rasional membuat pemilihan.
Prinsip kewajiban pula membawa maksud sesuatu tindakan dianggap bermoral jika dilakukan dengan kerelaan hati atau tanggungjawab yang diakui. Arti kata lain, prinsip ini menegaskan tanggungjawab dilaksanakan semata-mata karena amalan itu merupakan kewajipan. Sebagi contoh, menunaikan janji yang telah dikotakan. Seorang ayah yang telah berjanji akan memberi hadiah atau ganjaran kepada anaknya sekiranya berjaya di dalam peperiksaan, perlu menunaikan janjinya. Jika tidak si anak akan hilang kepercayaan terhadap ayahnya dan berputus asa untuk meneruskan kejayaannya kerana janji yang dikotakan tidak dilaksanakan. Bagi mengambil sesuatu tindakan bermoral, kita perlu mempraktikkan formula berikut:
Kebebasan + Keadilan + Kebijaksanaan + Pilihan (rujukan Maxim) = Tindakan Bermoral.
    Tekad baik dapat diterangkan lebih jelas dengan tindakan manusia dalam melakukan tugas dan tanggungjawabnya semata-mata kerana desakan nilai dalaman yang dipanggil ‘good will’ atau tekad baik dan bukan disebabkan oleh motif-motif lain seperti ganjaran, hukuman atau tekanan. Jika seseorang melakukan tugas dan tanggungjawabnya disebabkan keseronokan, simpati atau kasihan tetapi bukan disebabkan ‘good will’, maka tindakannya dikatakan tidak mempunyai nilai moral walaupun mendapat sanjungan dan pujian.
     Prinsip kewajiban terbagi kepada dua kategori iaitu categorikal imperative (perintah mutlak) dan practical imperativeCategorical imperative atau perintah mutlak menerangkan perintah yang wujud tanpa sebarang pengecualian atau syarat-syarat. Terdapat tiga prinsip utama dalam perintah mutlak ini iaitu prinsip tersebut mestilah diterima secara umum, dapat menghormati manusia dan pihak yang bertanggungjawab sanggup diperlakukan sedemikian sekiranya dia berada dalam kedudukan teraniaya. Practical imperative (Praktikal Imperatif) menyatakan bahawa kemanusiaan hendaklah sentiasa menjadi matlamat dan bukan alat perlakuan individu. Malah, kemanusiaan adalah suatu nilai intrinsik manusia.
      Contoh yang berkaitan dengan kehidupan seharian yang boleh dikaitkan dengan categorical imperative atau perintah mutlak ialah situasi semasa peperiksaan. Ramai yang mengetahui meniru atau menipu di dalam peperiksaan merupakan satu tindakan yang salah, namun atas sifat mementingkan diri dan ingin mencapai kejayaan dengan mudah masih ramai yang berani meniru atau menipu di dalam peperiksaan. Perlakuan ini akan sentiasa dihina kerana ia merupakan satu perbuatan yang tidak adil bagi individu yang jujur dan berusaha untuk mencapai kejayaan.
      Hasil daripada pembacaan dan pemahaman saya berkaitan Teori Deontologikal ini, dapat saya ulaskan bahwa setiap tindakan yang dilakukan diletakkan atas niat, tujuan dan motif, bukan pada apa yang dilakukannya atau kesan dan akibat hasil daripada tindakannya. Setiap tindakan yang diambil akan mempunyai nilai moral yang baik jika dilakukan atas kerelaan hati dan motif tindakannya ialah satu tanggungjawab kepada masyarakat bukan kerana paksaan atau desakan. Sekiranya disebabkan desakan atau paksaan, tindakan tersebut mempunyai nilai moral yang buruk. Selain itu, setiap tindakan yang dianggap betul dari segi moral tidak dianggap memadai jika dilakukan semata-mata untuk kepentingan diri. Contohnya seperti menderma, menderma merupakan satu tindakan yang baik dan setiap individu digalakkan untuk menderma. Menderma juga dikatakan salah satu tindakan yang bermoral dan mempunyai nilai yang baik jika dilakukan dengan penuh keikhlasan serta kerelaan hati penderma. Namun, menderma masih menjadi tindakan bermoral tetapi mempunyai nilai yang buruk jika berlaku desakan yang memaksa penderma untuk menderma.[6]


3.       Teori Hybrid
     Teori Hybrid merupakan kombinasi atau suatu yang berlainan dari teori teleologi dan deontologi.[7] Dalam teori ini terdapat lima teori, meliputi:[8]
1) Personal Libertarianism
Dikembangkan oleh Robert Nozick, di mana perbuatan etikal diukur bukan dengan keadilan distribusi kekayaan,  namun dengan keadilan atau kesamaan kesempatan bagi semua terhadap pilihan-pilihan yang ada (diketahui) untuk kemakmuran mereka. Teori ini percaya bahwa moralitas akan tumbuh subur dari maksimalisasi kebebasan individu.
2) Ethical Egoism
Dalam teori ini, memaksimalisasi kepentingan individu dilakukan sesuai dengan keinginan individu yang bersangkutan. Kepentingan ini bukan harus berupa barang atau kekayaan, bisa juga berupa ketenaran, keluarga bahagia, pekerjaan yang baik, atau apapun yang dianggap penting oleh pengambil keputusan yang dalam hal ini adalah yang bersangkutan.
3) Existentialism
Tokoh yang mengembangkan teori ini adalah Jean-Paul Sartre. Menurutnya, standar perilaku tidak dapat dirasionalisasikan. Tidak ada perbuatan yang benar-benar salah ataua benar-benar benar atau sebaliknya. Setiap orang dapat memilih prinsip etika yang disukai karena manusia adalah apa yang ia inginkan dirinya menjadi.
4) Relativism
Teori ini berpendapat bahwa etika itu bersifat relatif, jawaban dari etika itu tergantung dari situasinya. Dasar pemikiran teori ini adalah bahwa tidak ada kriteria universal untuk menentukan perbuatan etis. Setiap individu mempunyai kriteria sendiri-sendiri dan berbeda setiap budaya dan negara.
5) Teori Hak (right)
Nilai dasar yang dianut dalam teori in adalah kebebasan. Perbuatan etis harus didasarkan pada hak individu terhadap kebebasan memilih. Setiap individu memiliki hak moral yang tidak dapat ditawar.




[1] http://r4hm190.wordpress.com/2011/10/11/pengertian-contoh-dari-etika-teleologi-deontologi-teori-hak-teori-keutamaan/, Oktober 11, 2011, 9:56 am.
[2] http://bembyagus.blogspot.com/2012/04/teori-teori-etika-bisnis-etika.html, Minggu, 08 April 2012
[3] http://taufananggriawan.wordpress.com/2011/10/10/a-etika-teleologi-b-deontologi-c-teori-hak-d-teori-keutamaan-virtue/
[4] http://taufananggriawan.wordpress.com/2011/10/10/a-etika-teleologi-b-deontologi-c-teori-hak-d-teori-keutamaan-virtue/
[5] http://bembyagus.blogspot.com/2012/04/teori-teori-etika-bisnis-etika.html, Minggu, 08 April 2012
[6] http://notakuliahpismp.blogspot.com/4/4/2013/19.00
[7] http://yinwlungz.blogspot.com/2011/06/business-ethics.html
[8] Badroen, Faisal dkk, Etika Bisnis Dalam Islam, (Jakarta: 2005, UIN Jakarta Press), hlm. 29-31.

Disusun oleh: Dede Saepudin, Jumadi & Dede Setiawan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Uploaded with ImageShack.us
Perpustakaan Ilmu © 2008 Template by:
SkinCorner