Sabtu, 12 November 2011

Aplikasi Keimanan Dalam Berbagai Aspek Kehidupan


BAB III
APLIKASI KEIMANAN
DALAM BERBAGAI ASPEK KEHIDUPAN

A.    Perbedaan Filsafat dengan Ilmu Kalam

Filsafat berasal dari kata philos yg berarti cinta dan Sophia yg berarti hikmah atau pengetahuan. Dengan kata lain filsafat berarti cinta terhadap ilmu pengetahuan.[1] Secara istilah filsafat berarti ilmu yang berusaha mencari sebab musabab dari segala sesuatu, memecahkan permasalahan dan mencari kebenaran sesungguhnya. Selain itu filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat serta berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia. Orang yang menekuni ilmu filsafat disebut filosof.[2]
Sedangkan dikalangan Islam filsafat dipandang perlu untuk dipelajari untuk menyiarkan, mengembangkan pemikiran, memperkuat dan mempertahankan agama Islam, dalam Islam dikenal sebagai Ilmu Kalam.[3] Ilmu kalam adalah ilmu berisi alasan-alasan yang mempertahankan kepercayaan-kepercayaan iman dengan menggunakan dalil-dalil pikiran dan berisi bantahan terhadap orang-orang yang menyeleweng dari kepercayaan-kepercayaan aliran golongan salaf dan Ahli Sunnah.[4] Selain itu ada pula yang mengatakan bahwa ilmu kalam adalah ilmu yang membicarakan bagaimana menetapkan kepercayaan-kepercayaan dengan bukti-bukti yang meyakinkan. Orang yang menekuni ilmu kalam dinamakan mutakalimin.[5]
Perbedaan keduanya yaitu:[6]
1.      Mutakallimin :
Cara mempelajari: Nas Agama (Al Qur’an dan Hadits) 
Yang dipelajari hanya terbatas hal-hal yang menurut nas mungkin diketahui seperti roh, zat Tuhan mutakallimin tidak mempelajari.
2.      Filosof :
Cara mempelajari: Nas-nas yang mendukung teori argumen rasional bahkan kadang menggunakan takhwil Al Qur’an.
Yang dipelajari tidak terbatas bahkan zat Tuhan, roh dan sebagainya.
Kesimpulan 1, dapat dikemukakan bahwa perbedaan antara ilmu kalam dan filsafat adalah dalam ilmu kalam, filsafat dijadikan sebagai alat untuk membenarkan ayat-ayat al-Qur’an, sedangkan dalam filsafat sebaliknya, ayat-ayat al- Qur’an dijadikan bukti untuk membenarkan hasil-hasil filsafat.
Kesimpulan 2, pembahasan dalam ilmu kalam terbatas pada hal-hal yang tertentu saja. Masalah yang dimustahilkan Al-Qur’an mengetahui tidak dibahas oleh ilmu kalam tetap dibahas oleh filsafat.

B.     Tauhid sebagai Aqidah dan Filsafah Hidup Manusia[7]
Ajaran tauhid diturunkan semenjak manusia pertama yaitu nabi Adam AS sampai nabi terakhir nabi Muhammad SAW. Maka tidak benar teory Charles Darwin mengenai teori asal muasal Agama. dengan alasan:
Kalau agama islam muncul melalui proses evolusi sesuai dengan tingkat dan kemajuan ilmu pengetahuan berarti agama islam adalah produk manusia. Sedangkan islam adalah agama wahyu, dating dari Allah SWT. Ia bukan kebudayaan, sekalipun ia melahirkan kebudayaan dan peradaban.
Kalau Adam a.s adalah seorang Nabi, tentu ia diberi bekal oleh Allah SWT dengan agama tauhid atau monoteisme. Dalam kepercayaan Umat berima, Adam adalah Nabi.
Akidah Islam tidak mengalami evolusi semenjak nabi pertama sampai sekarang yaitu menganut satu tuhan yaitu Allah SWT. Bukan hasil buatan manusia. Sebagai argument yang kuat dijelaskan dalam Al Qur’an yang intinya seperti ini ” jika kalian berprasangka Al Qur’an ini buatan manusia terdahulu coba kalian membuat satu ayat saja yg seperti Al Quran!”
Ilmu tauhid adalah ilmu yang mempelajari bagaimana bertauhid secara benar sesuai Al Qur’an dan Hadits.karena perbedaan latar belakang ,pemikiran, metode pendekatan yg berbeda beda maka timbul aliran aliran atau firqah dalam ilmu tauhid,bahkan sekte dalam satu firqah.
Jalan yang paling mudah dan dekat untuk mengenali Allah adalah dengan metafakuri alam ciptaan Allah SWT baik di dalam diri manusia maupun luar manusia. Sebagaimana diperintahkan dalam surat Al-Baqoroh QS:2:164.
“Dalam Al Quran disebutkan “berpikirlah tentang makhluk Allah dan jangan kamu berpikir tentang zat Allah, sebab kamu tidak akan mencapai hakekatnya.”
Bentuk, wajah Allah bukan jangkauan akal manusia,sebab akal manusia hanya terbatas pada hal-hal yang bersifat nyata, yang dapat dijangkau oleh rasio.
Dengan keyakinan penuh adanya Allah SWT, maka manusia akan mempercayai Rukun iman yang lain (malaikat, kitab, rasul, hari kiamat dan qodo dan qodar)
Dengan keimanan yang kuat mendorong meningkatnya frekuensi ibadah,sebab ibadah adalah indicator keimanan manusia disamping sikap,tingkah laku dan perbuatan manusia. Dengan kata lain ketebalan iman bergantung pada kualias ibadahnya.memelihara Iman paling penting dengan cara zikir disetiap keadaan, dan selalu ingat akan kewajibannya sebagai hamba Allah.
Orang yang tertanam Iman di dadanya,diikutu amal ibadah dan ditunjang dengan sikap,perilaku dan perbuatan nilai-nilai kethuidan dinamakan muttaqin.
Ciri-ciri muttaqin disebutkan dalam Al Quran :

1.        Surat Al-Baqoroh ayat 3-4 :[8]
a.         Percaya kepada yang ghaib.
b.         Mendirikan shalat.
c.         Menafkahkan rezeki kepada orang yang membutuhkan untuk menegakkan agama Allah swt.
d.        Mempercayai dan mengamalkan kitab yang datang dari Allah swt.
e.         Percaya dan yakin pada hari akhir (hidup sesudah mati).
2.         Surat Al-Baqoroh ayat 177 :[9]
a.       Beriman kepada nabi dan rasul.
b.      Membayar zakat.
c.       Menepati janji.
d.      Sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan peperangan.
3.        Surat Al-Imran ayat 134-135 :[10]
a.         Menahan amarahnya.
b.         Memaafkan orang lain.
c.         Ingat kepada Allah apabila melakukan perbuatan keji,lalu bertobat dan meminta ampun atas dosanya dan tidak melakukan perbuatannya lagi.

Firman Allah, “Manusia bertaqwa memiliki sikap-sikap perbuatan yang terpuji. Diantaranya, memiliki kesabaran yang tinggi. Tidak angkuh dan tidak sombong. Tidak diperbudak oleh benda tetapi mampu menguasai benda/materi.” (QS.11:49)
                Dalam perjalanan hidupnya orang-orang bertaqwa selalu memilih yang terbaik. Senantiasa bertindak dengan perangai terpuji. Tidak pernah terhalang dirinya untuk berbuat kebaikan. Segera menyambut amal baik denan ikhlas. Begitulah sikap yang menonjol yang selalu dikenal oleh Allah (QS. 3 :115, 9 : 44).
            Dari ciri-ciri muttaqin tersebut maka muttaqin mencakup dua hal yaitu perpaduan iman dan amal shaleh.

C.      Pendidikan dan Pengajaran Tauhid[11]
Pendidikan dan pengajaran merupakan hal yang penting bagi kehidupan manusia. Dengan pendidikan dan pengajaran itulah Umat manusia dapat maju dan berkembang biak, melahirkan kebudayaan dan peradaban positif yang membawa kepada kebahagiaan dan kesejahteraan hidup mereka.
Yang dimaksud dengan pendidikan tauhid di sini ialah pemberian bimbingan kepada anak didik agar ia memiliki jiwa tauhid yang kuat dan mantap dan memiliki tauhid yang baik dan benar. Bimbingan itu dilakukan tidak hanya dengan lisan dan tulisan, tetapi juga bahkan ini yang terpenting dengan sikap, tingkah laku perbuatan. Sedangkan yang dimaksud dengan pengajaran tauhid ialah pemberian pengertian tentang ketauhidan, baik pada kebahagiaan hidup dunia dan ukhrawi.
Pendidikan dan pengajran tauhid, baik yang berhubungan dengan akidah maupun dalam kaitan dengan ibadah, akanmenanamkan keikhlasan pada diri seseorang dalam setiap tindakan atau perbuatan pengabdiannya. Keikhlasan dalam mengabdi kepada Allah inilah yang membuat tauhid bagaikan pisau bermata dua, satu segi untuk kehidupan di Akhirat, sisi lain untuk kehidupan di dunia.

D.      Tauhid dan Pembinaan Kepribadian[12]
Pembentukan kepribadian taqwa berkaitan sangat erat dengan tauhid. Penanaman tauhid yang baik dan benar kepada anak akan sangat menentukan terwujudnya kepribadian takwa tersebut. Pertama, tauhid merupakan fondasi yang diatasnya berdiri bangunan-bangunan kehidupan manusia, termasuk jepribadiannya, dengan makin kuat dan kokohnya tauhid, makin baik dan sempurna kepribadian takwa seseorang. Kedua, tauhid merupakan aspek batin yang memberikan motivasi dan arah bagi perkembangan kepribadian manusia.
E.       Tauhid dan Kesehatan Mental[13]
Jika akidah atau keyakinan sebagaimana diajarkan islam di atas tertanam dalam jiwa seseorang, mentalnya akan kuat, jiwa tidak tergoncang hanya oleh karena orang lain tidak memberikan penghargaan kepada-Nya.
F.       Ilmu dan Akidah[14]
Dalam membina akidah dan ibadah, agama juga tidak bisa berjalan sendiri, Ia harus dibantu oleh ilmu pengetahuan. Ilmu dapat menjelaskan dan menafsirkan arti dan makna akidah dan ibadah secara rsional sehingga ia tidak hanya diterima dengan rasa ( iman ) tapi juga diterima dengan rasio. Hal ini akan lebih memantapkan rasa keberagamaan dan keyakinan seseorang serta menumbuhkan kesadarannya yang mendalam untuk memperkuat iman dan melaksanakan ibadah dengan baik dan benar.


[1]Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Askara, 1994), cet. IV, hlm.1.
[2] Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, (terj.) Hasan Langgulung dari judul asli Falsafah Al-Islamiyah, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), cet. I, hlm.25.
[4] A. Hanafi. Theologi Islam (Ilmu Kalam), (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), cet.II. hlm.10.
[5] DR. H. Abuddin Nata, MA, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,2000), cet. IV, hlm.220.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Uploaded with ImageShack.us
Perpustakaan Ilmu © 2008 Template by:
SkinCorner